Wednesday, July 13, 2011

Dampak Pertambangan Terhadap Pesisir dan Laut


Dampak Pertambangan Terhadap Pesisir dan Laut

Oleh: Ir. Markus T Lasut, M.Sc, D Tech Sc
(Dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat, Alumni S3 dari Asian Institute of Technology, Thailand)


Semua sistem lingkungan (ekosistem) saling berhubungan satu dengan lainnya, baik secara langsung ataupun tidak. Sistem lingkungan yang ada di udara, di darat (di gunung), di pesisir, di laut, saling berhubungan membentuk suatu sistem lingkungan global. Ada yang bersifat sinergis (saling menunjang) dan ada yang antagonis (saling bertolak-belakang) satu dengan lainnya. Sehingga, perubahan yang terjadi di suatu ekosistem akan mempengaruhi (sinergis atau antagonis) keberadaan suatu atau lebih ekosistem lainnya. Hal ini adalah pemahaman ekologi dasar yang hendaknya dipahami oleh kita semua, karena semua perubahan dalam ekosistem akan selalu dirasakan/berdampak bagi kelangsungan hidup manusia.



Berangkat dari pemahaman ini maka suatu kegiatan yang dilakukan di daratan, di dataran tinggi (gunung) sekalipun, apabila berdampak negatif terhadap lingkungan maka akan dapat menimbulkan dampak negatif pula terhadap keberadaan ekosistem di daerah pesisir dan laut yang berada jauh dari kegiatan tersebut. Sebagai contoh, penurunan ekosistem perairan Teluk Manado juga disebabkan oleh kegiatan-kegiatan yang berlangsung di Kota Tondano, di mana residu kegiatan dari kota tersebut akan menuju Teluk Manado melalui DAS Tondano. Penurunan ekosistem perairan sekitar Kec. Wori juga disebabkan oleh kegiatan-kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Dimembe di mana residunya terbuang menuju ke perairan tersebut melalui DAS Talawaan. Keberadaan ekosistem perairan Selat Likupang akan sangat dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dataran tinggi Toka Tindung dan sekitarnya di mana residunya akan menuju selat tersebut melalui Sungai Maen dan Sungai Pangisan. Keberadaan ekosistem perairan di Teluk Rinondoran akan sangat dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dataran tinggi Araren dan sekitarnya di mana residunya menuju perairan tersebut melalui Sungai Araren. Dan banyak contoh lainnya yang menggambarkan hubungan antara dataran tinggi (daratan) dan dataran rendah (pesisir dan laut).

Oleh karena itu, apabila ada suatu kegiatan di darat (dataran tinggi) maka rencana pemantauan dan pengelolaan dari kegiatan tersebut harus dilakukan secara keseluruhan, komprehensif, dan terpadu yang mencakup wilayah kegiatan di darat dan wilayah pesisir dan laut yang terkena dampak, baik dampak besar maupun kecil. Hal ini dilakukan untuk melindungi lingkungan dan sumberdaya pesisir dan laut.

Kekhawatiran dunia akan kerusakan lingkungan pesisir dan laut sebagai akibat dari kegiatan di daratan sangat tinggi. Karena isu ini sangat penting untuk diatasi maka Forum Global tentang Kelautan, Pesisir, dan Pulau2 (‘the Global Forum on Oceans, Coasts, and Islands’) telah mengangkat isu ini untuk dibicarakan dalam berbagai forum global tingkat dunia dengan topik Perlindungan Lingkungan Laut dari Kegiatan di Daratan (the protection of the marine environment from land-based activities) dengan konsep pendekatan Freshwater-Coastal-Marine Interlinkage (hubungan perairan air tawar-pesisir-laut). Forum tersebut di antaranya adalah Workshop Internasional di Meksiko City-Meksiko (Januari 2006), di Konferensi Global ke-3 tentang Laut, Pesisir, dan Pulau (third Global Conference on Oceans, Coasts, and Islands) di Paris-Perancis (Januari 2006), di Forum Air Dunia (World Water Forum) di Meksiko City-Meksiko (Maret 2006), dan Kajian Antarpemerintah ke-2 (second Intergovernemntal Review) oleh UNEP-GPA di Beijing-China (Oktober 2006), dan juga akan dibicarakan di Konferensi Global ke-4 tentang Laut, Pesisir, dan Pulau (Fourth Global Conference on Oceans, Coasts, and Islands) di Hanoi-Vietnam (April 2007) dan di Konferensi Tingkat Dunia tentang Laut (World Ocean Conference) di Manado-Indonesia (Mei 2009).

Sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran di tingkat global, kekhawatiran di tingkat lokal daerah Sulawesi Utara pada kegiatan di darat yang berdampak negatif terhadap wilayah pesisir dan laut juga sangat tinggi. Salah satu contoh kegiatan seperti itu yang ada di daerah ini adalah kegiatan industri pertambangan emas. Kekhawatiran muncul oleh karena kegiatan pertambangan dapat berdampak negatif terhadap lingkungan, baik di darat maupun di pesisir dan laut. Secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut: industri pertambangan emas, apalagi yang berskala besar, menggali dan mengolah batuan biji emas dan mineral ikutannya (misalnya: merkuri, arsen, mangan, dsb.) dari perut bumi untuk memperoleh emas. Baik pada tahap persiapan instalasi pabrik maupun tahap operasi pengolahan emas, kegiatan ini menghasilkan substansi yang dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekitanya. Dampak negatif dapat saja terjadi dalam berbagai media. Untuk media air, misalnya, dapat menimbulkan berbagai substansi, seperti sedimentasi dan pengaliran air asam tambang yang beracun pada kadar tertentu (baik bersumber dari lubang tambang yang terbuka dan/atau dari kolam tempat penimbunan tailing apabila tailing tersebut ditimbun di darat dalam suatu kolam penyimpanan). Semua substansi tersebut akan keluar/dibuang melalui suatu daerah aliran sungai (DAS) menuju pesisir dan laut di mana sungai tersebut bermuara. Di samping terjadi sepanjang DAS, akumulasi akan substansi tersebut dapat terjadi dalam komponen ekosistem di daerah pesisir dan laut, dan pada kadar tertentu akan merusak ekosistem tersebut.

Kerusakan ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut tentu saja akan berdampak luas pada berbagai aspek yang berhubungan dengan kehidupan manusia, karena manusia sangat tergantung pada eksositem dan sumberdaya tersebut. Misalnya, degradasi kualitas lingkungan sebagai tempat hidup yang sehat bagi masyarakat yang bermukim di daerah pesisir. Selain itu degradasi sumberdaya perikanan dan aspek pariwisata. Semuanya itu akan berdampak pada penurunan dan kerugian pada aspek ekonomi, baik untuk masa saat ini maupun di masa yang akan datang.

Pada umumnya, suatu kegiatan akan melakukan kajian dampak lingkungan hanya terhadap lingkungan di mana kegiatan itu berada dan daerah sekitar kegiatan tersebut. Sehingga, kegiatan yang dilakukan di suatu dataran tinggi tidak mengkaji dampak yang dapat ditimbulkannya pada wilayah pesisir dan laut.

Oleh karena itu, untuk dapat dikatakan ’pengelolaan yang baik dan ramah lingkungan’ dan ’sesuai dengan standar internasional’, suatu kegiatan industri, misalnya pertambangan emas, harus dapat mengantisipasi dampak negatif yang dapat ditimbulkannya sesuai dengan konsep pendekatan yang diusulkan secara internasional. Seperti yang dijelaskan di atas, suatu kegiatan pertambangan, baik yang telah beroperasi maupun yang sedang dan akan mengusulkan kegiatannya, harus mengkaji semua dampak negatif yang dapat ditimbulkan dalam AMDAL dengan menggunakan pendekatan Freshwater-Coastal-Marine Interlinkage (hubungan perairan air tawar-pesisir-laut) yang telah dibicarakan di tingkat dunia. Sehingga, seluruh kesatuan wilayah kegiatan pertambangan dikaji secara terpadu, holistik dan komprehensif (baik wilayah di daratan di mana pertambangan itu berada maupun wilayah pesisir dan laut yang jauh tetapi berhubungan dengan kegiatan pertambangan). Dengan kata lain, apabila kajian akan aspek ini tidak/belum dilakukan maka dapat dikatakan AMDAL suatu kegiatan pertambangan belum lengkap.

sumber: opini
Read More

Menggantikan Garam dengan Rumput Laut

Tekanan darah tinggi, stroke dan kematian dini kini dapat dicegah dengan mengganti garam dengan butiran rumput laut, sebuah penelitian menyebutkannya.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Universitas Sheffield Hallam, Inggris ini meneliti butiran rumput laut yang ditemukan di lepas pantai Inggris dan Norwegia.

Mereka mendapatkan butiran rumput laut atau granul secara terbukti lebih sehat dan memiliki tingkat natrium lebih rendah hanya sekitar 3,5 persen dibandingkan dengan garam yang biasa dipakai dalam industri makanan yang bisa mengandung natrium hingga 40 persen.

Mengganti garam dengan rumput laut pun didukung oleh beberapa yayasan kesehatan di Inggris, salah satunya Dr Craig Rose dari Seaweed Health Foundation. "Rasanya enak, dan kuat bila dicampur dengan makanan. Manfaatnya pun jelas" terang Rose.

Meskipun dinilai dapat membantu mengurangi penyakit tekanan darah tinggi, hingga jantung. Namun masih banyak yang menilai penelitian ini kurang relevan.

Seperti hasil analisis dari Review Cochrane, yang menunjukkan data dari tujuh penelitian pada hampir 6.500 orang yang hasilnya memperlihatkan tidak ada manfaat yang jelas atas pengalihan garam ke rumput laut. Mereka bahkan menyarankan agar masyarakat lebih mengikuti aturan diet garam saja, bukan menggantinya.

Konsumsi garam harian maksimum yang direkomendasikan bagi manusia usia 11 tahun ke atas adalah 6g sehari. Para ahli mengklaim bahwa jika jumlah ini dapat dipangkas sedikit kasus tekanan darah tinggi dan serangan jantung pun akan terpangkas 70.000 setiap tahun.

sumber:Bangka Pos
Read More

Thursday, July 7, 2011

Panah Kecil Beracun dari Ubur-Ubur

Ubur-ubur merupakan hewan laut berbentuk payung dan memiliki tentakel berukuran beberapa centimeter hingga beberapa meter. Tubuhnya yang lunak hampir 98 persen terdiri atas air.

Binatang ini telah hadir sejak 650 juta tahun lalu. Hingga kini terdapat ribuan spesies ubur-ubur di seluruh dunia. Makanan utama ubur-ubur adalah plankton dan ikan-ikan kecil.

Beberapa tipe ubur-ubur memiliki alat perlindungan diri berupa panah kecil beracun atau nematosis. Panah ini dilepaskan dari tentakelnya untuk melemahkan ikan kecil atau predator.

"Manusia yang terkena panah ini akan merasa tersengat, seperti tersundut rokok," kata mantan peneliti Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anugerah Nontji. "Panah menghasilkan memar pada kulit, kadang disertai rasa gatal-gatal."

Jenis berbahaya yang sering ditemukan di Indonesia umumnya berupa ubur-ubur api. Binatang ini berukuran paling kecil 3 centimeter dan paling besar hingga 30 centimeter, tersebar hampir di semua pantai di Indonesia. Sengatan binatang ini menimbulkan memar pada tubuh.

Jenis paling berbahaya dikenal sebagai ubur-ubur kotak. Ukuran hewan ini bisa mencapai 1 meter dengan rumbai atau tentakel sepanjang 3-4 meter. Racun yang dihasilkan ubur-ubur ini dapat membunuh manusia dalam hitungan beberapa jam.

Ubur-ubur terbesar di dunia berasal dari jenis Cyanea capillata. Spesimen terbesar yang pernah dicatat manusia berukuran 2,3 meter dengan panjang tentakel mencapai 37 meter.

Tak semua ubur-ubur berbahaya. Di perairan selatan Jawa, terdapat ubur-ubur bulan yang sering ditangkap nelayan. Binatang ini kemudian dikeringkan sebelum diekspor ke Jepang untuk dikonsumsi sebagai hidangan yang lezat.

Sumber; Tempointeraktif
Read More

Tuesday, June 21, 2011

Tubuh Aerodinamis Ikan Terbang

Melompat keluar dari permukaan air tapi juga mampu melayang hingga jarak 200 meter bahkan bersama-sama bisa membentuk formasi terbang sejauh 400 meter menjadikan keunikan dari ikan ini. Karena keunikannya itu, ikan ini dinamakan ikan terbang.

Ikan terbang menggunakan tubuh aerodinamisnya untuk menembus permukaan air pada kecepatan tinggi dan siripnya yang besar dan aneh berfungsi seperti sayap untuk menjaganya tetap melayang di atas gelombang.

Alasan pertama ikan yang memiliki 40 atau lebih spesies ini hingga terbang adalah karena aksi melarikan diri atau menghindar dari para predator laut seperti ikan-ikan mackerel, tuna, swordfish dan marlin. Meski demikian ikan ini juga berhati-hati terhadap ancaman paruh burung-burung di atasnya.

Mekanisme bagaimana ikan ini bisa terbang juga sederhana saja. Awalnya mereka akan berakselerasi di dalam air hingga mencapai kecepatan 70 km/jam dibantu oleh kepakan ekor mereka. Sekali mereka melompat di atas air, sirip-siripnya akan mengembang dan memanfaatkan angin untuk meraih ketinggian. Adakalanya mereka memukulkan ekornya untuk tetap melompat tinggi dan mengubah arah.

Pada beberapa spesies ikan terbang, sayap di bagian dadanya juga dibantu sayap di bagian belakangnya untuk terbang, sehingga jenis yang bersayap empat ini lebih hebat beratraksi di udara. Meski kemampuan terbangnya tidak jauh, ikan terbang bisa melakukan terbang bersama, dengan membentuk formasi unik untuk menempuh jarak hingga 400 meter.

Read More

Monday, June 6, 2011

Pembangunan Kelautan dan Pesisir yang Berestetika Lokal

Kebijakan bidang kelautan dan pesisir didasarkan pada obyektivitas ilmiah (scientific objectivity) yang dibangun berdasarkan asas partisipatif dan diarahkan agar rakyat sebagai penerima manfaat terbesar. Kebijakan strategis ini diharapkan dapat membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, mengembangkan harkat dan martabat bangsa serta mampu mensejajarkan diri dengan komunitas negara maju didunia tanpa mengurangi estetika dan kearifan lokal.

Terminologi pemikiran konsep pembangunan sektor kelautan masih didominasi oleh terminologi pemikiran Michael Redclif tentang konsep pembangunan berkelanjutan. Feyereban yang seorang pakar ekonomi pembangunan mengutarakan bahwa dalam memahami pemikiran pembangunan diperlukan penggabungan tradisi abstrak yang didominasi pemikiran barat dengan tradisi historis yang menjadi ciri utama negara-negara sedang berkembang. Pembangunan sektor kelautan yang semacam ini dimana pengetahuan lokal menjadi landasan utama yang mensyaratkan ciri-ciri endogen berikut:
  1. bahwa unit sosial dari pembangunan itu haruslah suatu komunitas yang dibatasi oleh suatu ikatan budaya, dan pembangunan itu harus berakar pada nilai-nilai dan pranatanya;
  2. adanya kemandirian, yakni setiap komunitas bergantung pada kekuatan dan sumberdayanya sendiri bukan pada kekuatan luar;
  3. adanya keadilan sosial dalam masyarakat; dan
  4. keseimbangan ekologis, yang menyangkut kesadaran akan potensi ekosistem lokal dan batas-batasnya pada tingkat lokal dan global (Kusumastanto, 2002).

Strategi pemberdayaan masyarakat harus mempertimbangkan karakteristik masyarakat pesisir, khususnya nelayan sebagai komponen yang paling banyak, serta cakupan atau batasan pemberdayaan maka sudah tentu pemberdayaan nelayan patut dilakukan secara komprehensif. Pembangunan yang komprehensif, menurut Asian Development Bank (ADB) mencakup lima kategori penting, yaitu:
  1. berbasis lokal;
  2. berorientasi pada peningkatan kesejahteraan;
  3. berbasis kemitraan;
  4. secara holistic; dan
  5. berkelanjutan.

Pembangunan yang melibatkan sumber daya lokal dan dapat dinikmati oleh masyarakat lokal menjadi tolak ukur suksesnya pembangunan yang berbasis lokal. Pembangunan berbasis lokal tidak membuat penduduk lokal sekedar penonton dan pemerhati di luar sistem, tetapi melibatkan mereka dalam pembangunan itu sendiri. Pembangunan yang menitikberatkan pada kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dari pembangunan sesungguhnya. pembangunan ini bukan sekedar usaha peningkatan produksi, justru sebagai pencapaian pembangunan yang diarahkan pada pemenuhan ekonomi makro. wujud pembentukan pembangunan yang komprehensif dilakukan dengan bentuk usaha kemitraan yang saling menguntungkan (mutualisme) dengan masyarakat lokal. Kemitraan ini akan membuka akses masyarakat lokal terhadap teknologi, pasar, pengetahuan, modal, manajemen yang lebih baik, serta pergaulan bisnis yang lebih luas.

Kebanyakan masyarakat pesisir memang bergantung pada kegiatan sektor kelautan (perikanan), tetapi itu tidak berarti bahwa semua orang harus bergantung pada perikanan. Akibat dari semua orang menggantungkan diri pada perikanan yaitu kemungkinan terjadinya degradasi sumber daya ikan, penurunan produksi, kenaikan biaya produksi, penurunan pendapatan dan penurunan kesejahteraan. oleh karena itu diperlikan pembangunan yang holistik yang mencakup segala aspek. Pembangunan yang berkelanjutan juga mencakup aspek ekonomi dan sosial yang berarti bahwa pembangunan tidak harus melawan, merusak dan atau menggantikan system dan nilai sosial yang positif yang telah teruji sekian lama dan telah dipraktekkan oleh masyarakat. Pembangunan harus lebih bersahabat dengan estetika dan kearifan lokal masyarakat pesisir itu sendiri.

"berbagai sumber"
Read More